banner 468x60

Caleg dalam Sistem Demokrasi

No comment 23 views
banner 468x60

Caleg dan demokrasi adalah merupakan suatu unsur politik yang tidak bisa dipisahkan. Reaksi terhadap kekuasaan tunggal yang memusat pada satu pimpinan/ presiden/ raja/ kaesar yang anggap sebagai wakil tuhan, maka terlahirlah sistem demokrasi yang mengandung unsure Caleg di dalamnya. Kekuasaan tunggal seringkali mengakibatkan munculnya generasi korupsi. Karena itu perlu adanya pemisahan kekuasaan (sparating of power) yang akhirnya melahirkan konsep trias politica montesque, dimana Caleg juga merupakan satu bagian penting dalam konsep tersebut.

Trias politica montesque terdiri dari legislative, eksekutif dan yudikatif dengan Caleg sebagai salah satu unsur. Pemisahan kekuasaan antara yang satu dengan yang lain termasuk Caleg, dengan harapan ketiga – tiganya bersifat independen. Sebenarnya semua kekuasaan adalah milik rakyat melalui para Caleg yang juga salah satu pengemban amanah. Untuk itulah demokrasi diartikan sebagai sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun kenyataannya rakyat tidak pernah duduk di pemerintahan melainkan para Caleg yang diamanati. Kebijakan pemerintah juga seringkali tidak berpihak kepada rakyat, lantas bagaimana para Caleg dalam menjalankan amanah konstituen?.

Amanah konstituen telah dititipkan kepada para Caleg yang terpilih. Melalui sebuah pemilu, rakyat diharapkan mampu untuk menentukan nasib mereka sendiri dengan memilih Caleg – Caleg yang mereka yakini mampu membawa amanah rakyat. Namun kenyataannya rakyat banyak yang kurang berpartisipasi dalam pemilu karena rasa pesimis dan kurangnya optimis masyarakat terhadap para Caleg yang terpilih. Tingkat kepercayaan rakyat terhadap Caleg cenderung menurun, karena tidak pernah merasakan secara konkrit hasil kinerja para Caleg terpilih yang mampu membawa perubahan nasib menuju kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Menurunnya tingkat kepercayaan rakyat terhadap para Caleg terpilih juga dikarenakan banyaknya Caleg terpilih yang korupsi setelah menjabat dan juga moralitas Caleg selama menduduki jabatan mengecewakan rakyat.

Semua partai pengusung Caleg hampir secara keseluruhan juga mengalami penurunan tingkat kepercayaan public, termasuk partai islam atau partai yang mengklaim sebagai partai islam karena berbasis massa islam. Politikus termasuk Caleg banyak yang berlabel kyai, ustadz dan lain – lain, kebanyakan dari mereka ingin mencoba sebuah peruntungan yang mengharapkan sebuah nasib baik dengan menjadi Caleg. Pada dasarnya sistem demokrasi, parlemen ataupun Caleg adalah merupakan amanat rakyat yang harus benar – benar amanah dalam menjalankannya. Demokrasi, parlemen atau bahkan Caleg bukan tempat untuk meraup keuntungan pribadi maupun kepentingan golongan, melainkan untuk kepentingan seluruh rakyat.

Demokrasi tanpa pemilu yang diramaikan para Caleg merupakan satu hal yang mustahil. Pemilu merupakan stempel demokrasi yang tidak dapat dipisahkan karena begitu melekatnya pemilu dalam sebuah sistem demokrasi, baik untuk pemilu legislative memilih Caleg terpilih maupun pemilu pilpres. Caleg dalam sebuah sistem demokrasi adalah mutlak adanya. Karena Caleg merupakan calon anggota legislative yang merupakan wakil rakyat yang dipercaya oleh rakyat untuk menjalankan amanah rakyat dengan menduduki bangku parlemen guna membuat kebijakan – kebijakan yang memihak masyarakat.

Caleg dalam sebuah sistem demokrasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Caleg merupakan wakil rakyat yang duduk di kursi parlemen, yang dipilih oleh rakyat, yang berasal dari rakyat dan bekerja untuk rakyat. Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat dengan memilih Caleg dari partai politik yang telah mendaftarkannya melalui sebuah pemilu legislative yang mana saat ini dilakukan secara serempak dengan pilpres.

Related Search

Email Autoresponder indonesia
author
Author: 

    Leave a reply "Caleg dalam Sistem Demokrasi"