banner 468x60

Menunggu Banom PMII?

No comment 37 views
banner 468x60

Perdebatan soal dikembalikannya PMII sebagai bagian dari struktur atau badan otonom NU mengemuka pada Muktamar ke-33 NU. Walhasil, pada rapat Pleno III melalui perubahan pasal 17 ayat 6 mengeluarkan keputusan bahwa PMII dan Kopri PMII resmi kembali menjadi Badan Otonom NU. Meskipun, hasil ini ditentang oleh PB PMII dan akan membahasnya pada kongres PMII tahun ini di Palu.

Hasil muktamar ke-33 NU dan juga sikap PB PMII ini memunculkan statement yang ada di masyarakat, apakah PMII menerima untuk kembali menjadi bagian dari Banom NU, akan dicatat oleh sejarah PMII tidak independen. Sementara membiarkan tetap berada di luar, merupakan sikap perlawanan terhadap keluarga besar NU.

Alasan mendasar PB PMII menolak menjadi badan otonom NU sesuai dengan keputusan pada 1972 di Malang yang kemudian diperkuat kembali pada 1991 bahwa PMII memiliki hubungan dengan NU tetapi bersifat interpendensia.

Keisengan saya untuk mengetahui sejauh mana sikap PMII di akar rumput, saya menanyakan kepada sahabati ketua cabang PMII Kutai Timur, Suci Nastiti. Apakah relevan PMII menjadi badan otonom Nahdlatul Ulama, bagaimana menyikapi statement masyarakat dengan dicatatnya sejarah PMI tidak independen versus sikap perlawanan terhadap keluarga besar NU bila tidak menjadi badan otonom?

Suci menjawab pertanyaan sederhana tersebut kepada saya “Tidak relevan, cukup PMII menjadi independen, akan tetapi orang tua kami sampai kapanpun tetap NU. Biarlah PMII menjadi NU kultural yang tidak masuk struktur, namun nilai-nilainya adalah nilai NU yang diamalkan”.

Bagi saya, PMII harusnya tegas, kalau ngaku anak NU jadilah badan otonom NU, kalau hanya sekedar alibi amaliahnya NU, banyak anggota dari luar NU, biar independent itu hanya “ego” sesaat. Lihat kakak-kakak kalian, ISNU, Fatayat, dan GP Ansor, kebanyakan mereka adalah dari PMII dan mereka “legowo” menjadi bagian keluarga besar NU, atau kita tengok adik-adik kalian IPNU/IPPNU yang kelak akan melanjutkan perjuangan pergerakan kalian.

Saat ini, sebagai orang tua saya menunggu jawaban dari para mahasiswa-mahasiswa PMII yang saat ini sedang berkonggres XIX di Palu. Sebagai orang tua, saya mengingatkan kepada sahabat-sahabat PMII bahwa kehadiran PMII tidak lepas dimotori oleh kalangan muda NU, meskipun di kemudian hari adanya deklarasi Murnajati 14 Juli 1972 PMII menyatakan sikap independen dari lembaga NU.

Sebagai orang tua, saya hanya mengingatkan bahwa sejarah awal didirikannya PMII adalah mewadahi pegerakan mahasiswa NU bukan mahasiswa yang lain. Karena ketidaknyamanan PMII berada di organisasi mahasiswa islam (HMI) yang bukan milik NU. Kemudian, bila ada mahasiswa diluar NU, itu hanyalah sebagai bentuk bonus dan hasil dinamika perjuangan PMII dalam berorganisasi.

Bila konggres tahun ini PMII menolak menjadi badan otonom NU, maka sudah seharusnya PBNU agar kaderisasi berdasarkan profesi maupun tingkatan umur tidak hilang dan mandeg, maka diperlukan badan otonom khusus dan baru yang mewadahi mahasiswa mahasiswa NU. Sebuah badan otonom mahasiswa NU yang leqowo dan menerima NU sebagai bagian kultural maupun struktural.

Selamat berkonggres PMII
Gunakan dzikir, pikir, dan amal sholeh…!!

 

 

Sismanto HS
Wakil sekretaris NU Kutai Timur

Related Search

Email Autoresponder indonesia
author
Author: 

    Leave a reply "Menunggu Banom PMII?"