banner 468x60

Opini: Hari Buruh Antara Harapan dan Tantangan

No comment 19 views
banner 468x60

Sismanto HS*)

 

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah pekerja upahnya sebelum keringatnya kering” (HR. Ibnu Majah).

Hari ini seluruh buruh di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia dari Sabang sampai Merauke tumpah ruah melakukan aksi nyata untuk memperingati hari buruh sedunia atau yang lebih populer dengan sebutan May Day. Bagi buruh, makna May Day adalah hari kemenangan.

May Day diperingati sebagai bentuk peringatan untuk mengenang perjuangan para buruh untuk mengubah jam kerja, yang awalnya 12 jam menjadi 16 jam, dan kemudian berubah menjadi 8 jam kerja. Gerakan awal buruh ini berpusat di Chicago, Amerika Serikat pada 1886 lalu.

Foto ilustrasi

Perjuangan para buruh di masa awal kemerdekaan, ditengarai Indonesia adalah negara Asia pertama yang merayakan 1 Mei sebagai hari buruh sejak 1920 silam. Peringatan ini dilegitimasi berdasarkan undang-undang Nomor 12 Tahun 1948 pasal 15 ayat 2 yang menyatakan bahwa pada 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja, berangkat dari situlah 1 Mei diakui sebagai hari buruh nasional.

Untuk itu, upaya yang dilakukan para buruh untuk memperjuangkan haknya ini patut diapresiasi bersama, apalagi yang dilakukan buruh adalah dengan aksi yang profesional dengan pendekatan objektif, persuatif, dan memiliki visi bersama untuk membangun peradaban bangsa menjadi lebih baik. Hal ini menjadi penting dilakukan, karena perjuangan tidak hanya mengandalkan otot secara fisik, namun butuh strategi dan metode yang pas untuk mensukseskan apa yang diharapkan bersama.

Saat ini, perjuangan buruh menuntut hak-haknya sesuai dengan harapan mulai menampakkan hasilnya, yakni mendapatkan cara hidup yang layak atau minimal hasil kerja buruh dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi memungkinkan.

Beberapa tahun terakhir, penulis mencatat beberapa keberhasilan perjuangan para buruh di antaranya adalah ketika pemerintah indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah setuju pendapatan di bawah dua juta tidak dikenakan pajak. Hal ini didukung dengan adanya pembatalan sistem kerja kontrak outsourcing dari Mahkamah Konstitusi pada tanggal 17 Januari 2012 yang bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945.

Sementara, beberapa aksi buruh di Indonesia setidaknya ada 3 hal tuntutan yang disuarakan para buruh, pertama adalah penghapusan buruh kontrak dan magang yang dinilai sebagai bentuk praktek perbudakan modern. Bentuk perbudakan modern ini merupakan praktik perburuhan yang tidak memberikan kepastian kerja dan masa depan pada buruh.

Kedua, menuntut jaminan sosial khususnya jaminan kesehatan gratis untuk seluruh rakyat serta jaminan pensiun buruh yang disamakan dengan ASN/PNS, yakni 60% dari upah akhir.

Terakhir adalah tuntutan dicabutnya PP nomor 78 Tahun 2015 tentang pengupahan. Berdasarkan PP 78 tahun 2015 tersebut, kenaikan buruh hanya 10 sampai 20 dolar per tahun. Bila dirupiahkan dengan kurs Rp. 13.000, maka kenaikan tertinggi hanya Rp. 260.000 pertahun.

Saat ini yang terpenting bagi buruh adalah jangan sampai gerakan buruh pada Mayday ini ditunggangi oleh kepentingan sekelompok orang yang pada gilirannya berdampak kontraproduktif bagi buruh itu sendiri.

Sehingga, perlu penegasan bersama bahwa demonstrasi yang dilakukan para buruh adalah mencari solusi dan bukan mencari masalah baru.

Prinsipnya adalah bagaimana menyelesaikan masalah perburuhan melalui dialog yang intensif dengan mengusung semangat keterbukaan dan kejujuran dan saling menghargai berbagai pihak dan stakeholder yang saling memerlukan. Jangan sampai kanal-kanal komunikasi tertutup, sehingga buruh tidak dapat menyampaikan aspirasinya dengan baik, sementara disisi lain pengusaha juga tidak mampu menyelesaikan kesulitannya.

Selamat Hari Buruh …!

 

*) Ketua LTN Nahdlatul Ulama Kutai Timur dan Sekretaris Forum Komunikasi Pegawai

 

Related Search

Email Autoresponder indonesia
author
Author: 

    Leave a reply "Opini: Hari Buruh Antara Harapan dan Tantangan"