banner 468x60

Opini: PR Emansipasi

No comment 97 views
banner 468x60

 

Bulan April blog-blog dibanjiri dengan informasi seputar Kartini. Membaca artikel tentang wanita memang seru dan membicarakan masalah perempuan seperti cerber yang tidak ada akhirnya. Sejak Presiden RI Soekarno memutuskan 21 April sebagai Hari Kartini, sejak itu pulalah bangsa Indonesia selalu merayakannya setiap tahunnya hingga sekarang. Ditahun 2017 ini jika tidak salah hitung, bangsa Indonesia telah merayakan Hari Kartini yang ke-138.Tidak hanya dengan Upacara Bendera, biasanya untuk mengenang jasa Kartini, masyarakat disegala penjuru nusantara juga turut merayakan dengan mengadakan berbagai lomba. Seperti memasak, peragaan busana, membaca puisi, dll. Sebagian orang menganggap keputusan Presiden Pertama RI ini sebagai keputusan yang diskriminatif, pasalnya memang tidak hanya Kartini pahlawan wanita yang bangsa Indonesia punya, tidak hanya dengan ide semata-mata, namun juga dengan kerja dan langkah nyata. Bahkan dari hasil telusur para ahli sejarah, Dewi Sartika justru lebih dulu telah mendirikan sebuah sekolah sebelum Kartini.

Memaknai Hari Kartini haruslah pintar, sangat disayangkan jika cita-cita Kartini yang ingin mengangkat derajat kaum perempuan melalui pendidikan tercemar. Lebih dari mengurus anak, suami, dan keluarga, perempuan juga mempunyai hak untuk berkarya. Bagaimana bisa mengurus keluarga dengan baik, kalau dari segi pendidikan saja tergolong rendah. Saya sangat setuju akan ide moderen Kartini tersebut, dimana perempuan layak untuk mendapatkan pendidikan, sehingga pendidikan yang didapat bisa mengangkat derajat dan martabat perempuan. Namun janganlah kemudian semangat Kartini dijadikan topeng atau kedok untuk menutupi suatu perbuatan yang tidak terpuji dan menjadi terbalik. Wanita merokok dan mengenakan celana pendek bukanlah trend gaya hidup yang diharapkan Kartini. Orangtua yang terdidik juga tidak mungkin membiarkan ini terjadi. Kartini tidak pernah mengajarkan wanita untuk melawan kodrat sebagai wanita, apalagi menyetarakan gender. Karena sampai kapanpun wanita tidak akan pernah sama dengan laki-laki. Demikian sempurna Allah menciptakan perbedaan ini untuk bisa hidup saling melengkapi, bukan saling menyaingi. Setara tentu disesuaikan dengan proporsinya masing-masing, mengingat gender adalah fitrah. Yang diinginkan Kartini adalah persamaan hak memperoleh pendidikan dan merdeka dari segala paksaan untuk semua perempuan, tidak peduli perempuan dari keturunan bangsawan maupun perempuan yang berasal dari rakyat jelata.

Tak dapat dipungkiri diera sekarang, keinginan Kartini mengilhami banyak kaum perempuan terdidik memperoleh hak yang sama dalam bekerja disegala bidang, dan ketika ekonomi keluarga menuntut suatu kecukupan, maka membantu suami mencari nafkah guna menutupi kekurangan, merupakan hal yang dianggap sah. Memang ada dampak yang timbulkan sebagai wujud konsekuensi dari tindakan ini, namun dampak tersebut harus bisa bersama-sama diatasi dengan kepala dingin. Tidak jarang, mentang-mentang bekerja mencari nafkah seorang istri kemudian merendahkan suami, dan tidak mau lagi mengurus rumah tangganya dengan baik, beralasan capek. Namun banyak juga seorang suami yang justru menjadikan istri sebagai mesin pencetak uang, sementara ia sendiri berleha-leha dirumah.

Menurut sejarah, pada jaman Kartini budaya pingitan dan kawin paksa (perjodohan) mengakar kuat dalam kehidupan  masyarakat jawa dan sah saja bagi golongan bangsawan atau priyayi untuk beristri lebih dari satu. Termasuk Kartini sendiri yang dipersunting oleh seorang bangsawan Jepara pada usia relatif muda. Belum genap 25 tahun usianya, Kartini harus menerima lamaran menjadi istri kedua dari sang Adipati Rembang, sebagai wujud patuh dan bakti kepada orangtua. Ia tak mampu melawan secara fisik, iapun menuliskan semua pemberontakannya dengan cara menulis surat dalam Bahasa Belanda kepada salah seorang temannya. Surat inilah yang kemudian dikumpulkan dan dibukukan. Hal ini pula yang membuat saya pribadi, sebagai salah satu perempuan turut merasa bangga, satu hal luar biasa yang Kartini tinggalkan sebelum wafat setelah melahirkan putra pertama. Yaitu berupa tulisan. Saya anggap wajar orang lainlah yang mengapresiasi ide dan karya Kartini, menjadikannya himpunan hingga menjadi sebuah buku. Karena pada jamannya, Kartini hidup dalam budaya adat jawa yang mengekang, tidak boleh terlalu banyak keluar rumah. Beruntung karena ia seorang berdarah biru maka ia dibolehkan bersekolah sehingga ia mampu membaca dan menulis dengan baik. Dalam keterbatasan ruang geraknya ia tuliskan semua ide dan keinginannya dalam bentuk tulisan.

Terlepas dari pro dan kontra perayaan Hari Kartini, saya berpendapat bahwa kegemaran menulis Kartini perlu ditularkan kepada anak-anak usia sekolah sesuai tingkatannya, sehingga diusia dewasa dengan sendirinya mereka akan menulis tanpa adanya paksaan. Memang dalam kurikulum sudah ada pelajaran menulis, apalagi mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi sepertinya bagi siswa-siswi menulis baru sebatas menunaikan kewajiban akademiknya saja disekolah, belum membudaya. Tugas guru sebagai orang dewasa yang notabene digugu dan ditiru, yang harus menularkan virus menulis, hingga menjadi salah satu kebiasaan baik. Sedikit atau banyak ide positif yang tertuang ke dalam sebuah tulisan, insyaAllah akan ada manfaat bagi orang lain di kemudian hari. Amin.

 

Konbeng, 21 April 2017. Setiyati

Related Search

Email Autoresponder indonesia
author
Author: 

    Leave a reply "Opini: PR Emansipasi"